Senin, 22 September 2014

Seberapa Efektif Anda Dalam Mengelola Piutang Dagang?

Seberapa Efektif Anda Dalam Mengelola Piutang Dagang?

<b>Seberapa Efektif Anda</b> Dalam Mengelola Piutang Dagang?
Mengetahui seberapa efektif anda dalam mengelola piutang dagang, sangat penting bagi pengelolaan keuangan perusahaan secara keseluruhan. Pertanyaan yang sama bisa diterjemahkan sebagai: “seberapa efektif kebijakan kredit yang anda terapkan selama ini sehingga mampu meningkat penjualan di satu sisinya, dan seberapa mampu anda dalam mengkonversikan piutang menjadi kas untuk menopang kelancaran operasional perusahaan, di sisi lainnya.
Dengan kata lain, mengetahui seberapa efektif pengelolaan piutang dagang dalam suatu perusahaan menjawab pertanyaan: seberapa efektif tatakelola keuangan perusahaan dalam mendukung kelancaran operasional perusahaan secara keseluruhan?
Dalam perusahaan berskala besar, tugas pengelolaan keuangan mungkin ditangani oleh bagian keuangan (treasury), tetapi di perusahaan-perusahaan berskala kecil hingga menengah, tugas ini biasanya jatuh ke bagian accounting, termasuk urusan piutang dagang. Sehingga, kemampuan mengelola piutang dagang sangat perlu dikuasai oleh mereka-mereka yang bekerja di kedua bagian ini (treasury dan accounting).
Di bagian accounting itu sendiri, urusan piutang dagang biasanya ditangani oleh bagian khusus yaitu “Accounts Receivable” tentunya di bawah pengawasan chief accounting maupun controller.
Untuk menjawab pertanyaan “seberapa efektif anda dalam mengelola piutang dagang perusahaan” sudah pasti anda perlu melakukan assessment (pengukuran atau pengujian) dengan menggunakan parameter, indikator dan metode tertentu yang bisa mengarahkan anda pada kesimpulan tersebut.
Sebelum memasuki langkah assessment tersebut, saya ingin mengajak anda untuk bersama-sama mengksplorasi tata kelola piutang dagang yang efektif, tentunya dengan mengikutsertakan pendapat dan pengalaman saya pribadi.

Mengelola Piutang Dagang Secara Efektif

Dalam mengelola piutang dagang, ada dua hal yang paling dihindari:
1. Piutang Tak Tertagih (bad debt) – Yang satu ini memang mimpi buruk paling menakutkan. Perusahaan sesehat apapun akan kolaps bila memiliki bad debt yang tinggi.
2. Piutang Lewat Jatuh Tempo (Overdue Receivable) – Pembayaran yang melewati jatuh tempopun bisa menjadi parasit dapat menggerogoti kesehatan keuangan perusahaan dalam jangka panjang.
Yang manapun terjadi diantara kedua siatuasi tersebut, akan memaksa perusahaan untuk melakukan salah satu diantara ketiga tindakan berikut ini:
  • Mencari pinjaman bank (bank loan) guna menutupi kebutuhannya akan kas, yang sudah pasti disertai beban bunga yang harus ditanggung perusahaan; atau
  • Menurunkan kapasitas perusahaan dalam menghasilkan barang atau jasa—sehingga pendapatan, langsung-atau-tak langsung juga akan tergerus; atau
  • Kombinasi keduanya.
Dengan mindset dasar itu, perusahaan dan para pengelolanya cenderung untuk MEMAKSIMALKAN usaha-usaha untuk mencegah piutang tak tertagih maupun piutang lewat jatuh tempo, atau mengatasinya bila sudah terlanjur terjadi.
Dua pendekatan yang paling umum dilakukan untuk mencegah (atau mengatasi) piutang tak tertagih dan piutang lewat jatuh tempo, yaitu:
1. Melakukan tindakan penagihan yang agresif – Menghubungi pelanggan (via email atau telepon) secara terus menerus—bahkan tak jarang sampai mendatangi kantornya untuk mengingatkan bahwa hutang mereka sudah mendekati jatuh tempo. Bila sampai pada fase ‘tak tertagih’, biasanya perusahaan sampai mendatangi kediaman pribadi pelanggan untuk melakukan penagihan paksa.
2. Menerapkan kebijakan kredit yang lebih ketat – Bila di masa lalu menyediakan kredit 30 hari bagi semua pelanggan, untuk mencegah kemungkinan bad debt mungkin perusahaan mempersempit termin pembayaran menjadi hanya 2 minggu. Lebih ekstrimnya, mungkin perusahaan hanya melayani pembelian tunai saja.
Kedua pendekatan tersebut memang sangat ampuh untuk mencegah (atau mengatasi) piutang tak tertagih maupun piutang lewat jatuh tempo. AKAN TETAPI, bila dilakukan secara berlebihan—TANPA memperhitungkan ASPEK LAIN, perusahaan bisa terjebak dalam suatu keadaan yang mungkin samasekali tak pernah mereka duga sebelumnya.
Penerapan kebijakan kredit yang ketat dan tindak penagihan yang agresif, berimplikasi langsunng terhadap penjualan yang pada akhirnya juga akan berpengaruh terhadap pendapatan dan laba-rugi di akhir periode.
Kecuali memiliki produk yang luar biasa disukai (seperti produk-produknya Apple), terutama di tengah-tengah lingkungan bisnis yang iklim kompetisinya kian tinggi dewasa ini, menjaga stabilitas penjualan adalah hal yang paling sulit untuk dilakukan. Kebijakan kredit yang terlalu ketat—apalagi memaksakan untuk hanya melayani penjualan tunai, bisa menjadi kontra-kompetitif, mengurangi peluang untuk bisa meningkatkan penjualan.
Dan, tindak penagihan yang agresif akan menimbulkan pengalaman yang sangat tidak mengenakan bagi para pelanggan. Bahwa ada pelanggan yang memang nakal (tidak niat membayar), itu IYA. Tetapi sebagian besar lainnya, mereka samasekali tidak mengharapkan model penagihan agresif. Rasa tidak nyaman akibat terus-menerus ditelpon—apalagi jika sampai disatroni ke rumah, bisa membuat pelanggan memutuskan untuk mencari vendor lain, terlepas apakah mereka menyukai produk atau jasa yang dibeli selama ini atau tidak, terlepas apakah harga produk yang mereka beli terhitung mahal atau tidak.
TATA KELOLA PIUTANG DAGANG YANG EFEKTIF, adalah pengaturan piutang dagang yang MENYEIMBANGKAN antara: (a) usaha-usaha untuk mencegah piutang tak tertagih dan piutang lewat jatuh tempo—guna memenuhi kecukupan kas di satu sisinya; dengan (b) usaha-usaha untuk meningkatkan penjualan—dengan memberikan pengalaman yang nyaman bagi customer dan menyediakan termin pembayaran yang competitive di lingkungan business secara luas di sisi lainnya.
Pertanyaan krusialnya menjadi: apakah tata kelola piutang dagang yang anda terapkan selama ini sudah tergolong efektif atau tidak? Apakah kebijakan kreditnya terlalu ketat atau terlalu longgar?
Untuk mengukur sejauh mana EFEKTIFITAS TATA KELOLA PIUTANG dagang yang telah atau sedang diterapkan, perlu dilakukan assessment seperti yang telah saya sampaikan di awal tulisan. Bagaimana caranya mengukur efektifitas tata kelola piutang dagang?
Ada 2 metode pengujian yang umum dipakai untuk menilai efektifitas tata kelola piutang dagang, yaitu:
  • Rasio Perputaran Akun Piutang Dagang (Accounts receivable turnover); dan
  • Rasio Periode Penagihan Rata-rata (Average collection period)
Selanjutnya, kita bahas mengani kedua metode di atas…

Menggunakan Rasio Perputaran Piutang Dagang (Accounts Receivable Turnover)

Menggunakan “Rasio Perputaran Piutang Dagang” atau “Accounts Receivable Turnover” artinya, anda sedang mencoba untuk mengetahui: berapa kali, dalam periode tertentu, piutang dagang anda mengalami perputaran. Dengan kata lain, rasio perputaran piutang dagang mengukur berapa kali piutang dagang yang telah jatuh tempo berhasil ditagih, lalu digantikan oleh piutang yang baru.
“Rasio Perputaran Piutang Dagang” dihitung dengan menggunakan formula sebagai berikut:
Rasio Perputaran Piutang Dagang = Penjualan / Rata-Rata Piutang
Yang dimaksudkan dengan “Penjualan” dalam formula ini adalah: total nilai penjualan untuk periode yang diukur, 1 Jan s/d 31 Des 2012 misalnya. Sudah sangat jelas, tidak ada masalah—anda bisa mengetahui total penjualan dari buku besar “Penjualan.”
Sedangkan “Rata-rata Piutang” adalah: Rata-rata saldo piutang untuk periode yang sama. Menghitung nilai rata-rata ini yang kadang menjebak.
Dalam menghitung rata-rata saldo piutang, terkadang seseorang hanya menggunakan “saldo awal” dan “saldo akhir” piutang, dijumlahkan, lalu dibagi dua. Misalnya: Yang diambil hanya saldo piutang dagang per 31 Januari ditambah saldo piutang dagang per 31 Desember, lalu dibagi dua. Cara ini akan menghasilkan nilai rata-rata piutang yang tidak tepat.
Cara terbaik untuk menghitung nilai rata-rata piutang adalah dengan jalan: menjumlahkan semua saldo piutang disepanjang periode (dari 31 Jan + 28 Feb + 31 Mar…. dan seterusnya hingga 31 Desember), lalu dibagi total bulan—atau 12 jika perusahaan menggunakan periodisasi tahunan.
Contoh Kasus:
Perusahaan anda PT. JAK, di tahun 2012, membukukan nilai penjualan sebesar 250,000,000 dengan saldo piutang dagang per bulan sebagai berikut:
Seberapa Efektif Anda Dalam Mengelola Piutang Dagang
Seperti terlihat di atas, dengan hanya menggunakan saldo awal (per 31-jan) dan saldo akhir (31-Des) saja, anda akan menghasilkan rata-rata saldo piutang sebesar Rp 5,500,000 saja, dan itu samasekali tidak akurat. Sedangkan dengan menjumlahkan semua saldo piutang sepanjang periode anda akan memperoleh rata-rata saldo piutang sebesar Rp 8.875,000, yang lebih akurat dan mendekati kondisi yang sebenarnya.
Nah, berdasarkan informasi tersebut, anda bisa menghitung “Rasio Perputaran Piutang Dagang.” sebagai berikut:
Rasio Perputaran Piutang Dagang = Penjualan / Rata-rata Piutang
Rasio Perputaran Piutang Dagang = Rp 250,000,000/Rp 8,875,000 [update: May 05]
Rasio Perputaran Piutang Dagang = 28
“Rasio Perputaran Piutang Dagang” sebesar 28 artinya: piutang dagangnya PT. JAK rata-rata beputar sebanyak 28 kali pada periode 2012.

Mengkonversikan Perputaran Piutang Ke Periode Penagihan Rata-Rata

Jika tidak terbiasa dengan istilah “perputaran” (banyak koq yang tidak terbiasa dengan istilahyang satu ini), anda bisa mengkonversikan “Rasio Perputaran Piutang Dagang” menjadi angka yang menunjukan jumlah hari yang diperlukan untuk menagih piutang dengan melakukan perhitungan yang disebut dengan “Rasio Periode Penagihan Rata-Rata” (Average Collection Period)—mungkin ini ini lebih mudah dipahami.
“Rasio Periode Penagihan Rata-Rata” dihitung dengan cara: membagi angka 365 atau 360 (jumlah hari dalam setahun) dengan “Rasio Perputaran Piutang”. Jika ditulis dalam bentuk formula, jadinya sebagai berikut:
Periode Penagihan Rata-Rata = 365/ Rasio Perputaran Piutang
Catatan: jika kebetulan jatuh ditahun kabisat, maka angka 365 diganti dengan 360.
Dengan menggunakan contoh sebelumnya, maka periode penagihan rata-rata PT. JAK untuk tahun 2012 adalah sekitar 13 hari (=365/28). Itu artinya PT. JAK, rata-rata butuh waktu 13 hari untuk melakukan penagihan piutang di tahun 2012.
Pertanyaannya: Apakah rasio perputaran putang sebanyak 28 kali dalam setahun itu tergolong efektif atau tidak? Apakah dengan periode penagihan rata-rata selama 13 hari itu tergolong efektif atau tidak?
CARA YANG PALING MUDAH untuk mengukur hal ini adalah dengan: membandingkan RASIO SAAT INI dengan RASIO YANG SAMA DI PERIODE SEBELUMNYA (tahun 2011 dalam kasusnya PT.JAK.)
Nah, jika di tahun 2011, rasio perputaran piutang dagang-nya PT. JAK hanya 12 kali (atau butuh waktu sekitar 30 hari untuk melakukan penagihan) misalnya, itu artinya rasio perputaran piutang maupun periode penagihan rata-rata PT. JAK di 2012 jauh lebih baik dibandingkan di tahun 2011. Dengan kata lain: perputaran piutang di 2012 lebih sering dibandingkan tahun sebelumnya, dan waktu yang dibutuhkan untuk melakukan penagihan lebih cepat dibandingkan tahun sebelumnya.
Pertanyaan selanjutnya: Apakah perputaran yang lebih sering artinya sudah pasti lebih efektif? Apakah periode pangihan yang lebih cepat juga sudah berarti lebih efektif?
Ya, konvensi umum yang digunakan selama ini mengatakan, “IYA”—lebih cepat lebih baek (lho koq seperti selogan kampanyenya Jusuf Kalla ya? Hehe).
TETAPI, seperti yang sudah saya sampaikan di awal tadi bahwa: percepatan ini biasanya hanya bisa dicapai dengan 2 cara, yaitu (a) memperketat kebijakan kredit; dan (b) menerapkan tindak penagihan yang lebih agresif—yang sudah pasti akan berpengaruh terhadap loyalitas pelanggan, sehingga secara tidak langsung akan berpengaruh terhadap “Penjualan”.
Untuk memastikan hal itu, tentunya anda tidak bisa hanya berandai-andai atau berasumsi. Sebagai seorang akuntan atau orang keuangan, anda sebaiknya melakukan analisa data yang cukup. Salah satu analisa yang bisa dilakukan adalah “Trend Analysis”—dengan cara membandingkan “Penjualan saat ini” dengan penjualan-penjualan tahun sebelumnya—lihat trend-nya SAMA, MENINGKAT atau MENURUN?
Nah jika hasil analisa menunjukan bahwa penjualan anda BAIK-BAIK SAJA, maka bisa dipastikan bahwa rasio perputaran putang dan rasio periode penagihan rata-rata perusahaan anda SUDAH EFEKTIF. Artinya, juga, TATA KELOLA PIUTANG DAGANG yang anda terapkan selama ini sudah efektif. Untuk itu saya ucapkan selamat!
TETAPI, jika hasil analisa menunjukan hal sebaliknya, berarti masih ada banyak hal yang perlu anda lakukan. Kemungkinan penyebab menurunnya penjualan TIDAK SELALU, TIDAK MESTI, ada hubungannya dengan kebijakan kredit maupun cara-cara penagihan yang anda terapkan. Anda juga perlu memeriksa:
  • Kualitas produk/jasa yang dijual—apakah menurun atau tidak?
  • Waktu penyerahan barang/jasa – apakah tepat waktu atau molor-molor?
  • Kualitas pelayanan terhadap pelanggan (diluar penagihan) – Apakah menurun atau tidak?
  • Kualitas produk/jasa yang dijual oleh pesaing—apakah mengingkat atau tidak?
  • Kondisi ekonomi makro—apakah membaik atau memburuk?
  • Dan seterusnya.
Dan, diantara kemungkian faktor penyebab tersebut, sekalilagi, bisa jadi kebijakan kredit dan proses penagihan piutang adalah salah satunya.
Cara lain yang bisa dilakukan untuk melakukan pengukuran terhadap efektifitas tata kelola piutang dagang adalah dengan melakukan apa yang disebut dengan “Benchmarking”—yaitu: membandingkan rasio perputaran piutang anda dengan rasio yang sama, di periode yang sama, dari perusahaan lain yang sejenis. Dari sana anda bisa melihat seberapa bagus anda dalam mengelola piutang dagang—jika dibandingkan dengan perusahaan lain. Semoga sukses!

Sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/02/seberapa-efektif-anda-dalam-mengelola-piutang-dagang/

kesehatan

Pengertian Kesehatan Menurut WHO

Pengertian Kesehatan menurut wikipedia adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis. Sedangkan Pengertian Kesehatan menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 1948  menyebutkan bahwa pengertian kesehatan adalah sebagai “suatu keadaan fisik, mental, dan sosial kesejahteraan dan bukan hanya ketiadaan penyakit atau kelemahan”
Pada tahun 1986, WHO, dalam Piagam Ottawa untuk Promosi Kesehatan, mengatakan bahwa pengertian kesehatan adalah “sumber daya bagi kehidupan sehari-hari, bukan tujuan hidup Kesehatan adalah konsep positif menekankan sumber daya sosial dan pribadi, serta kemampuan fisik.


Pengertian Kesehatan Menurut Undang-Undang

Dalam Undang-Undang ini yang pengertian kesehatan adalah:
  • Kesehatan adalah keadaan sejahtera dari badan, jiwa, dan sosial yang memungkinkan setiap orang hidup produktif secara sosial dan ekonomis.
  • Upaya kesehatan adalah setiap kegiatan untuk memelihara dan meningkatkan kesehatan yang dilakukan oleh pemerintah dan atau masyarakat.
  • Tenaga kesehatan adalah setiap orang yang mengabdikan diri dalam bidang kesehatan serta memiliki pengetahuan dan atau keterampilan melalui pendidikan di bidang kesehatan yang untuk jenis tertentu memerlukan kewenangan untuk melakukan upaya kesehatan.
  • Sarana kesehatan adalah tempat yang digunakan untuk menyelenggarakan upaya kesehatan.
  • Kesehatan adalah sesuatu yang sangat berguna
Pemeliharaan kesehatan adalah upaya penaggulangan dan pencegahan gangguan kesehatan yang memerlukan pemeriksaan, pengobatan dan/atau perawatan termasuk kehamilan dan persalinan.
Pendidikan kesehatan adalah proses membantu sesorang, dengan bertindak secara sendiri-sendiri ataupun secara kolektif, untuk membuat keputusan berdasarkan pengetahuan mengenai hal-hal yang memengaruhi kesehatan pribadinya dan orang lain.
Definisi yang bahkan lebih sederhana diajukan oleh Larry Green dan para koleganya yang menulis bahwa pendidikan kesehatan adalah kombinasi pengalaman belajar yang dirancang untuk mempermudahadaptasi sukarela terhadap perilaku yang kondusif bagi kesehatan.
Data terakhir menunjukkan bahwa saat ini lebih dari 80 persen rakyat Indonesia tidak mampu mendapatjaminan kesehatan dari lembaga atau perusahaan di bidang pemeliharaan kesehatan, seperti Akses, Taspen, dan Jamsostek.
Golongan masyarakat yang dianggap ‘teranaktirikan’ dalam hal jaminan kesehatan adalah mereka dari golongan masyarakat kecil dan pedagang. Dalam pelayanan kesehatan, masalah ini menjadi lebih pelik, berhubung dalam manajemen pelayanan kesehatan tidak saja terkait beberapa kelompok manusia, tetapi juga sifat yang khusus dari pelayanan kesehatan itu sendiri

Aspek-Aspek Kesehatan

Pada dasarnya kesehatan itu meliputi empat aspek, antara lain :
A. Kesehatan fisik terwujud apabila sesorang tidak merasa dan mengeluh sakit atau tidak adanya keluhan dan memang secara objektif tidak tampak sakit. Semua organ tubuh berfungsi normal atau tidak mengalami gangguan.
B. Kesehatan mental (jiwa) mencakup 3 komponen, yakni pikiran, emosional, dan spiritual.
  • Pikiran sehat tercermin dari cara berpikir atau jalan pikiran.
  • Emosional sehat tercermin dari kemampuan seseorang untuk mengekspresikan emosinya, misalnya takut, gembira, kuatir, sedih dan sebagainya.
  • Spiritual sehat tercermin dari cara seseorang dalam mengekspresikan rasa syukur, pujian, kepercayaan dan sebagainya terhadap sesuatu di luar alam fana ini, yakni Tuhan Yang Maha Kuasa. Misalnya sehat spiritual dapat dilihat dari praktik keagamaan seseorang. Dengan perkataan lain, sehat spiritual adalah keadaan dimana seseorang menjalankan ibadah dan semua aturan-aturan agama yang dianutnya.
C. Kesehatan sosial terwujud apabila seseorang mampu berhubungan dengan orang lain atau kelompok lain secara baik, tanpa membedakan ras, suku, agama atau kepercayan, status sosial, ekonomi, politik, dan sebagainya, serta saling toleran dan menghargai.
D. Kesehatan dari aspek ekonomi terlihat bila seseorang (dewasa) produktif, dalam arti mempunyai kegiatan yang menghasilkan sesuatu yang dapat menyokong terhadap hidupnya sendiri atau keluarganya secara finansial.
Bagi mereka yang belum dewasa (siswa atau mahasiswa) dan usia lanjut (pensiunan), dengan sendirinya batasan ini tidak berlaku. Oleh sebab itu, bagi kelompok tersebut, yang berlaku adalah produktif secara sosial, yakni mempunyai kegiatan yang berguna bagi kehidupan mereka nanti, misalnya berprestasi bagi siswa atau mahasiswa, dan kegiatan sosial, keagamaan, atau pelayanan kemasyarakatan lainnya bagi usia lanjut.

Tujuan Kesehatan Dalam Segala Aspek

Salah satu tujuan nasional adalah memajukan kesejahteraan bangsa, yang berarti memenuhi kebutuhan dasar manusia, yaitu pangan, sandang, pangan, pendidikan, kesehatan, lapangan kerja dan ketenteraman hidup. Tujuan pembangunan kesehatan adalah tercapainya kemampuan untuk hidup sehat bagi setiap penduduk, jadi tanggung jawab untuk terwujudnya derajat kesehatan yang optimal berada di tangan seluruh masyarakat Indonesia, pemerintah dan swasta bersama-sama.

Tujuan dan Ruang Lingkup Kesehatan Lingkungan

Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan dapat dibagi menjadi dua, secara umum dan secara khusus. Tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan secara umum, antara lain:

  • Melakukan koreksi atau perbaikan terhadap segala bahaya dan ancaman pada kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
  • Melakukan usaha pencegahan dengan cara mengatur sumber-sumber lingkungan dalam upaya meningkatkan derajat kesehatan dan kesejahteraan hidup manusia.
  • Melakukan kerja sama dan menerapkan program terpadu di antara masyarakat dan institusi pemerintah serta lembaga nonpemerintah dalam menghadapi bencana alam atau wabah penyakit menular.
Adapun tujuan dan ruang lingkup kesehatan lingkungan secara khusus meliputi usaha-usaha perbaikan atau pengendalian terhadap lingkungan hidup manusia, yang di antaranya berupa:
  • Menyediakan air bersih yang cukup dan memenuhi persyaratan kesehatan.
  • Makanan dan minuman yang diproduksi dalam skala besar dan dikonsumsi secara luas oleh masyarakat.
  • Pencemaran udara akibat sisa pembakaran BBM, batubara, kebakaran hutan, dan gas beracun yang berbahaya bagi kesehatan dan makhluk hidup lain dan menjadi penyebab terjadinya perubahan ekosistem.
  • Limbah cair dan padat yang berasal dari rumah tangga, pertanian, peternakan, industri, rumah sakit, dan lain-lain.
  • Kontrol terhadap arthropoda dan rodent yang menjadi vektor penyakit dan cara memutuskan rantai penularan penyakitnya.
  • Perumahan dan bangunan yang layak huni dan memenuhi syarat kesehatan.
  • Kebisingan, radiasi, dan kesehatan kerja.
  • Survei sanitasi untuk perencanaan, pemantauan, dan evaluasi program kesehatan lingkungan

Tujuan Pembangunan Kesehatan

Untuk jangka panjang pembangunan bidang kesehatan diarahkan untuk tercapainya tujuan utama sebagai berikut:

  • Peningkatan kemampuan masyarakat untuk menolong dirinya sendiri dalam bidang kesehatan.
  • Perbaikan mutu lingkungan hidup yang dapat menjamin kesehatan.
  • Peningkatan status gizi masyarakat.
  • Pengurangan kesakitan (morbiditas) dan kematian (mortalitas).
  • Pengembangan keluarga sehat sejahtera, dengan makin diterimanya norma keluarga kecil yang bahagia dan sejahtera.

Dasar-Dasar Pembangunan Kesehatan

Dasar-dasar pembangunan nasional di bidang kesehatan adalah sebagai berikut:

  • Semua warga negara berhak memperoleh derajat kesehatan yang optimal agar dapat bekerja dan hidup layak sesuai dengan martabat manusia.
  • Pemerintah dan masyarakat bertanggung jawab dalam memelihara dan mempertinggi derajat kesehatan rakyat.
  • Penyelenggaraan upaya kesehatan diatur oleh pemerintah dan dilakukan secara serasi dan seimbang oleh pemerintah dan masyarakat.
Kata kunci artikel :

Pengertian Kesehatan

Referensi:
Undang-undang No.23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan & Undang-undang No.29 Tahun 2004 Tentang Praktik Kedokteran”, VisiMedia
http://id.wikipedia.org/wiki/Kesehatan
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/medicine-history/2091011-pengertian-kesehatan/
http://id.shvoong.com/medicine-and-health/epidemiology-public-health/2199030-pengertian-kesehatan-menurut-undang-undang/

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan

Tips Menghadapi Interview Kerja Untuk Posisi Akuntansi-Keuangan
Menghadapi interview kerja pertamakalinya, gampang-gampang susah (atau susah-susah gampang). Terlebih-lebih untuk posisi akuntansi-keuangan
Saya katakan gampang karena sesusungguhnya tidak ada teori—selain hal-hal common-sense macam “lakukan eye-contact, jabat tangan interviewer dengan penuh rasa percaya diri, bal bla bla bla…..”
Dan, saya katakan susah karena saya meyakini, setidaknya sampai saat ini, tidak ada satu formulapun yang bisa diberlakukan untuk semua orang dalam segala kondisi.
Adapun tips yang akan saya share melalui tulisan ini, BUKAN ‘pil’ yang bisa mengubah seseorang yang unqualified menjadi ‘seolah-olah’ qualified. Melainkan sesuatu yang bisa mencegah seseorang yang qualified menjadi terlihat ‘seolah-olah’ unqualified—akibat sikap atau ucapan yang tidak pas dalam interview kerja, khusus untuk posisi akuntansi-keuangan.
Sebelum masuk ke hal-hal yang lebih detail, ada satu hal yang penting untuk diketahui namun sering disepelekan oleh job-seeker—termasuk oleh mereka yang melamar posisi di bagian akuntansi-keuangan, yaitu: tujuan mereka melamar pekerjaan.

Jangan ‘Jual Diri’ Dengan Harga Murah

Di era sosial media sekarang ini kita bisa terhubung ke banyak orang, dengan beragam latarbelakang dan karakter. Tak bisa dipungkiri, curhat adalah salah satu aktivitas yang paling digemari di sosial media. Diantara banyaknya macam hal yang di-curhat-kan, salah satunya adalah keluhan tentang pekerjaan.
Sesekali mengeluhkan tentang pekerjaan, saya pikir, adalah sesuatu yang manusiawi—‘hak segala bangsa’ shit can be happened to anybody, tetapi bila dilakukan berkali-kali maka itu adalah sesuatu yang tidak wajar, mesti ada masalah serius di dalamnya. Nah, mengapa ada beberapa orang yang nampak begitu getol mengeluh tentang pekerjaan? Apa yang salah di dunia kerja mereka?
Sudah pasti ada banyak faktor yang menyebabkan seseorang menjadi merasa tidak puas terhadap pekerjaan/profesi yang dijalaninya. Salah satunya, menurut saya, disebabkan oleh perilaku “jual-diri dengan harga murah”—menjual keahlian dan kompetensi dengan harga murah—yang penting laku. Berorientasi jangka pendek.
Tak ada yang salah dengan prinsip itu—terlebih-lebih untuk kita di Indonesia di mana mencari pekerjaan adalah tantangan tersendiri. Saya bisa mengerti. Tetapi perlu disadari; prinsip “yang penting kerja” ini bisa menjadi jebakan—terutama bagi kita yang memiliki kompetensi khusus akuntansi dan keuangan.
Diawali dengan pemikiran “ah yang penting kerja dulu, nanti bisa cari pekerjaan yang lebih sesuai, sambil jalan”. Terdengar sangat realistis. Apa yang terjadi selanjutnya? Tiga bulan pertama (probation period), waktu habis untuk orientasi dan penyesuaian diri. Tahun pertama, waktu habis untuk memperbaiki kualitas pekerjaan. Dua tahun berlalu tanpa terasa. Di tahun ketiga mungkin mulai ‘sadar diri’ bahwa ini hanya pekerjaan sementara, tetapi himpitan rutinitas membuat ruang untuk pindah kerja menjadi sangat sempit.
Empat hingga lima tahun waktu berlalu tanpa terasa. Setelah itu, apakah anda masih yakin mampu melakukan pekerjaan akuntansi-keuangan? Bukannya mustahil, tetapi diperlukan kemauan, usaha dan tekad yang ekstra untuk bisa kembali ke disiplin ilmu semula (akuntansi-keuangan).
[quote]Don’t sell yourself short! Jika tidak yakin dengan posisi yang anda lamar, cari tahu hingga mendapat keyakinan yang anda butuhkan. Jika masih tidak yakin juga, sebaiknya dipertimbangkan kembali.[/quote]
Jika sudah yakin, silahkan. Tetapi, sudahkah anda tahu siapa yang akan anda hadapi saat interview nanti?

Siapa Yang Akan Anda Hadapi Dalam Proses Interview-Pekerjaan?

Terutama entry-level applicant, memiliki kecenderungan berpikir bahwa yang akan mereka temui nanti sudah pasti “orang Personalia (HRD).” Tidak salah, tetapi juga tidak sepenuhnya benar.
Yang melakukan pemeriksaan awal (screening) terhadap surat lamaran dan CV pelamar, IYA, orang HRD. Yang mengirimkan interview-invitation juga, IYA, orang HRD. Yang menyapa dan mempersilahkan anda duduk—ketika tiba di lokasi interview, IYA, orang HRD juga. Yang melakukan interview?
Sebagian besar perusahaan, dalam proses recruitment pegawai, melakukan dua sesi interview—entah di kesempatan yang sama atau berbeda. Tetapi tidak sedikit juga yang melakukan satu kali interview saja. Tergantung skala perusahaan, bagian dan posisi/level yang akan diisi.
Disamping melakukan screening dan mengatur proses recruitment (dari pasang iklan hingga training), HRD Manager biasanya hanya melakukan interview awal—untuk memastikan apakah anda memenuhi qualifikasi dasar yang dibutuhankan atau tidak. Sedangkan yang memutuskan apakah anda diterima untuk bekerja di sana atau tidak, adalah manajer bagian yang akan menjadi atasan anda langsung—biasa disebut “Hiring Manager”. Dalam hal ini adalah Chief Accountant atau Financial Manager.
Sehingga, anda harus siap untuk menghadapi 2 orang interviewer, dengan karakter, mindset dan tingkat kepentingan yang berbeda. Bagaimana menghadapi mereka? Kita obrolin satu-per-satu…

Interview dengan HRD Manager

Orang HRD—termasuk HRD manager, di satu sisinya berkepentingan untuk mensukseskan hajat recruitment secara keseluruhan, di sisi lain mereka adalah intermediary folk—orang yang ada diantara anda (kandidat pegawai) dan hiring manager (yang akan menjadi atasan anda kelak jika diterima.)
Kandidat sering terjebak dalam menyikapi keunikan posisi HRD ini—yang berpotensi membuat mereka menjadi gagal dalam interview:
  • Mereka (kandidat) yang tidak tahu persis posisi HRD, bisa terjebak dengan menghabiskan fokus mereka pada sesi interview awal yang dilakukan oleh HRD Manager—seteleh menunggu antrean yang bisa jadi cukup panjang. Sehingga, level stamina, antusias dan focus kandidat telah menurun drastis ketika berhadapan dengan Hiring Manager—sesi interview yang paling menentukan.
  • Kandidat yang tahu persis posisi HRD, juga bisa terjebak. Mengetahui bahwa HRD bukan pihak yang paling menentukan, membuat mereka menjadi ogah-ogahan dan cenderung menyepelekan ketika menjalani sesi interview dengan HRD. Mereka lupa kalau HRD adalah screener yang berfungsi untuk memilah-milah kandidat mana yang akan diajukan ke Hiring Manager dan kandidat mana yang dianggap tidak layak.

Penting untuk diketahui:
[quote]Karena alasan tertentu, orang-orang HRD menjadi mudah tersinggung dan mudah dilanda ‘api cemburu’.[/quote]
Apa “alasan tertentu” itu? Tidak banyak orang yang cukup peka untuk menangkap fenomena ini. Untuk kebaikan anda, saya buka di sini bahwa: rata-rata pegawai HRD menerima kompensasi (gaji, bonus, dan bentuk remunerasi lainnya) yang relative lebih rendah dibandingkan bagian-bagian lain—termasuk jika dibandingkan dengan pegawai di bagian accounting dan finance. Dan, mereka (orang HRD) tahu persis mengenai hal itu.
Bayangkan, apa yang mereka rasakan ketika berhadapan dengan calon pegawai yang baru masuk gajinya sudah lebih besar dari mereka? Dan apa yang akan terjadi jika rasa cemburu-bawaan itu disulut lagi dengan sikap  menyepelekan dari kandidat? Ngerti kan masud saya?
Saran saya: jangan berikan mereka alasan tambahan untuk tidak menyukai anda. Pandanglah posisi HRD sebagai posisi profesional yang juga berperan penting dalam nenentukan apakah anda akan masuk ke sesi interview yang menentukan atau tidak, dan hajat recruitment secara keseluruhan.
Sampai di sini, saya nggap anda sudah bisa melihat posisi HRD dengan lebih proporsional.
Menempatkan HRD sebagai profesional, bagaimana sebaiknya anda bersikap?
Seperti sudah saya singgung di awal tulisan, saya tidak punya ‘pil’ yang bisa mengubah seorang kandidat yang unqualified menjadi qualified. Sehingga qualifikasi anda adalah yang paling utama ketika menghadapi sesi interview dengan HRD. Idealnya anda memiliki kualifikasi yang memenuhi apa yang mereka harapkan—sesuai dengan posisi yang anda lamar.
Di luar aspek qualifikasi, yang perlu anda perhatikan adalah hal-hal sederhana, yang secara alamiah dimiliki oleh hampir semua orang—terlebih-lebih anda yang sudah menyelesaikan pendidikan tinggi (D3 atau Sarjana Akuntansi).
As a rule of thumb, buatlah tugas mereka (HRD) menjadi lebih mudah dan bisa berjalan dengan lancarhargai territory dan otoritas mereka. Konkretnya: tunjukan daya tarik alamiah anda dengan cara menghargai mereka secara tulus. Saat mereka bicara perhatikan dan ikuti dengan seksama—jangan sekali-kali menunjukan sinyal menyepelekan.
Secara keseluruhan, strategy utama anda dalam menghadapi interview awal (dengan HRD) adalah memberi keyakinan bahwa, jika mereka meloloskan anda ke sesi interview berikutnya, anda tidak akan mempermalukan mereka. Ada 3 hal yang harus anda tunjukan untuk meyakinkan HRD mengenai hal itu:
  • Anda memang memiliki qualifikasi yang cukup untuk bisa menjalankan pekerjaan yang anda lamar.
  • Anda memang sungguh-sungguh menginginkan pekerjaan yang anda lamar (ingat: anda hanya melamar untuk posisi yang memang anda inginkan—don’t sell yourself short!).
  • Untuk mensukseskan pekerjaan yang akan diberikan, anda siap bekerjasama dengan siapa saja, termasuk HRD.
Sepanjang tidak membuat mereka tersinggung, dan bisa meyakinkan mereka untuk ketiga hal itu, saya yakin anda akan lolos ke sesi berikutnya, yaitu: interview dengan Hiring Manager (Chief Accountant atau Financial Manager)—orang yang paling menentukan apakah anda diterima bekerja atau tidak.

Interview Dengan Hiring Manager

Ketika anda sampai ke sesi interview dengan hiring manager, maka saya mengasumsikan bahwa anda memang memiliki kualifikasi yang cukup untuk pekerjaan yang anda lamar, dan memiliki attitude yang bisa diterima dalam lingkungan bisnis (perusahaan).
Esensi dari interview di sesi ini adalah: memastikan bahwa kandidat yang direkomendasikan oleh HRD memang sudah sesuai.
Sehingga, sepanjang anda memiliki kualifikasi yang sesuai dan kemampuan berkomunikasi yang cukup, mestinya anda tidak mengalami kesulitan yang serius di sesi ini.
Namun demikian, ada satu faktor di luar esensi itu, yang pernanannya sulit diukur dalam menentukan apakah hiring manager akan memilih anda atau kandidat lain—sehingga nyaris tidak ada resep pasti untuk hal ini. Apa faktor yang sulit diukur itu?
Saya menyebutnya dengan faktor “KLIK”—faktor yang mungkin bisa dideskripsikan sebagai: kecocokan chemistry antara hiring manager dengan anda sebagai orang yang akan menjadi bawahannya. Ini adalah sesuatu yang kompleks dan cenderung abstrak.
Menurut saya pribadi (baik sebagai orang yang pernah menjadi kandidat pegawai maupun sebagai orang yang pernah menjadi hiring manager), faktor ini adalah penentu akhir setelah hal-hal teknis sehubungan dengan capability dan kualifikasi.
Adakah cara agar saya bisa klik dengan hiring manager?” mungkin anda berpikir demikian.
Pertanyaan ini mirip dengan: “adakah cara agar orang yang paling saya inginkan jatuh cinta kepada saya?
Jawaban saya: TIDAK ADA. Maaf. Dan, hal yang sama juga berlaku bagi Hiring Manager.
Mirip seperti sepasang pria dan wanita yang sedang menjalani “quick-date—karena kebelet harus memiliki pasangan hidup secepatnya (mungkin tuntutan usia?). Tak banyak yang bisa diperbuat. Baik anda dan Hiring Manager hanya bisa menjalaninya, sambil berusaha untuk saling mengenal dalam waktu yang singkat.
Next, saya ingin mengajak anda untuk ikut menyimak, apa yang biasanya dilakukan oleh seorang Hiring Manager untuk bisa memperoleh keyakinan apakah dirinya “KLIK” dengan seorang kandidat atau tidak. Tentu ini adalah insight—yang mungkin tidak akan pernah anda temukan di website atau blog lain—termasuk portal-portal HRD.

Mempercepat Kemunculan Faktor KLIK dalam Interview (Dengan Hiring Manager)

Pada dasarnya, semua interview bersifat conversational—berjalanan melalui proses percakapan. Mulai dari percakapan ringan dan umum, lalu bergeser ke wilayah yang spesifik—wilayah pekerjaan yang anda lamar, dari hal-hal yang sifatnya abstract lalu bergeser ke hal-hal yang lebih konkret dan detail.
Setiap Hiring Manager pastinya memiliki cara dan style yang berbeda dalam menjalankan proses interview dengan seorang kandidat pegawai. Saya pribadi juga punya cara tersendiri. Ada beberapa hal yang saya assess (dan emphasize) untuk memastikan apakah seorang kandidat cocok untuk menjadi bawahan saya di Accounting dan Finance atau tidak, yaitu:
  • Apakah kandidat memiliki daya tahan stress yang cukup?
  • Apakah kandiat menganggap pekerjaan yang dilamarnya penting?
  • Apakah kandidat memiliki keberanian yang cukup untuk mengemukakan gagasan sekaligus mengekpresikan keinginannya?
  • Apakah kandidat memiliki intelligentsia yang cukup?
  • Apakah kandidat tidak mudah mudah terintimidasi?
  • Apakah kandidat memiliki kemuan belajar yang cukup?
  • Apakah kandidat memiliki kecenderungan sikap proactive dan assertive?
  • Apakah kandidat tidak mudah bosan dan tidak membosankan?
Ada 2 hal yang biasanya saya lakukan untuk memperoleh jawaban atas pertanyaan-pertanyaan di atas:
1. Dengan Mendiamkan – Saya hanya mempersilahkan kandidat duduk, selebihnya saya diamkan (sambil membereskan pekerjaan saya sebanyak mungkin). Sedikit mengenai behavioral psychology: dua orang asing berada dalam satu ruangan tanpa bicara adalah salah satu situasi dimana simpul stress menjadi mudah terpicu. Orang yang tidak tahan stress akan menunjukan gejala-gejala gelisah dalam waktu yang relative singkat. Dari pengamatan saya selama ini, hasilnya menunjukan:
  • Entry-level candidates biasanya hanya bisa bertahan selama 3 menit. Lewat dari itu mereka sudah mulai gelisah dengan berbagai perilaku—mulai dari menggerak-gerakan anggota tubuh sampai yang paling parah ambil sapu tangan dan menyeka keringat di dalam ruangan bersuhu dingin.
  • Management-level candidates (chief accountant, financial manager, credit manager, asset & capital manager, warehouse manager, dll) biasanya hanya mampu bertahan antara 7 hingga 10 menit. Lewat dari itu, mereka sudah mulai nampak gelisah—mulai dari menggoyang-goyangkan kaki, sampai dengan mengeluarkan ponsel.
Dari assessment sederhana ini, minimal saya tahu sampai dimana daya tahan stress seorang kandidat. Hiring manager lain mungkin memiliki cara lain dalam melakukan assessment yang sama. Teknik lainnya adalah dengan cara: memotong penjelasan kandidat setiap kali dia mulai semangat berbicara, secara terus-menerus.  Teknik lain yang serupa dengan ini adalah mengacuhkan kandidat ketika dia sedang bersusah payah menjelaskan sesuatu.
Saya menggunakan teknik-teknik itu untuk mengukur daya tahan stress kandidat, BUKAN untuk bersenang-senang apalagi bullying dan yang sejenisnya. Mungkin ada segelintir manajer yang melakukan hal seperti itu untuk sekedar bersenang-senang. Tetapi, sebagian besar lainnya memiliki banyak tugas mendesak yang harus diselesaikan, sehingga tidak punya cukup waktu untuk melakukan hal-hal yang tak perlu.
Kemampuan untuk bisa ‘tetap-tenang-meski-di-bawah-tekanan’ adalah hal penting yang harus di miliki oleh setiap pegawai yang bekerja di bagian akuntansi dan keuangan. Kemampuan teknis akuntansi, keuangan dan pajak memang syarat mutlak, tetapi entah mengapa saya tak pernah meragukan kemampuan anak-anak lulusan Akuntansi terkait dengan kompetensi.
Jika harus memilih antara (1) pegawai cakap secara teknis tapi tidak tahan stress; dengan (2) pegawai berkemampuan biasa tetapi tahan stress, saya cenderung memilih yang kedua. Mengapa? Karena employee turnover yang tinggi adalah pemborosan yang jauh lebih ‘mahal’ dibandingkan dengan mengikutsertakan staf untuk training dan workshop.
Sebagai basic-standard, untuk staf dan manager di accounting dan keuangan, saya butuh orang-orang yang memiliki mental baja, tahan stress, tidak mudah terintimidasi, dan bisa tetap tenang dalam kondisi tertekan. Saya rasa hampir semua manager dan eksekutif menggunakan mindset serupa.
Jadi, jika anda melamar untuk bagian accounting atau finance, bersiplah untuk stress-free test semacam itu.
2. Dengan Bertanya – Tidak tahu dengan orang lain, saya pribadi tidak suka interview yang serem-serem. Setelah saya diamkan beberapa menit, saya hanya perlu membuat kandidat kaget—dengan meluncurkan pertanyaan yang mungkin terdengar sangat sederhana, yaitu:
Apakah sudah interview dengan HRD?” yang biasanya saya susul dengan pertanyaan “apakah ada pertanyaan?
Jika jawaban kandidat adalah “Tidak”, maka selesai sudah wawancaranya—yang artinya: GAGAL. Mengapa? Jawaban “tidak” dalam hal ini, saya artikan sebagai:
  • Pekerjaan ini, tidak terlalu penting buat saya (hell, I have tens of candidate after you); atau
  • Saya tidak berani mengemukakan gagasan atau mengekspresikan keinginan (you, lamme); atau
  • Saya bodoh (back to school, please); atau
  • Saya tidak sanggup menghadapi intimidasi (saya butuh samurai, bukan ayam sayur); atau
  • Saya malas berusaha, malas bekerja dan malas belajar (tempat ini tidak cocok untuk keledai); atau
  • Saya pasif dan lemah (ssszzzhhh..); atau
  • Saya cepat bosan sekaligus membosankan (please just don’t bother me further. thanks)
Dan, kandidat yang biasanya KLIK dengan saya adalah mereka yang mengajukan pertanyaan-pertanyaan berikut ini:
  • Apakah qualifikasi saya memenuhi kriteria yang anda harapkan?
  • Jika anda memutuskan untuk tidak meng-hire saya, apa kira-kira alasannya?
  • Adakah skill yang masih harus saya improve untuk bisa menjalankan pekerjaan saya nanti?
  • Jika saya diterima, bagaimana anda akan menilai kinerja saya ke depannya?
  • Dalam satu tahun ke depan, apa yang anda harapkan bisa saya lakukan untuk membuat anda tidak sia-sia menerima saya bekerja di sini?
  • Jika saya diterima bekerja di sini, sebagai bawahan anda, apa 3 perioritas kerja paling utama yang harus saya selesaikan dalam sehari/seminggu/sebulan/setahun, agar anda merasa terbantu?
  • Saya sangat menginginkan pekerjaan ini, apakah anda berkenan memberi saya kesempatan?
Dari pertanyaan-pertanyaan kandidat yang seperti itulah biasanya percakapan selanjutnya mengalir. Jika di tengah-tengah proses obrolan saya merasa ‘jatuh-cinta’, biasanya saya menawarkan sekaleng minuman dingin untuk diminum sampai interview selesai.
Tentu, yang saya sampaikan hanya segelintir diantara banyak pertanyaan yang bisa anda ajukan—jika hiring manager memberi anda kesempatan bertanya. Pada prakteknya, anda bisa mengajukan pertanyaan apa saja, sepanjang pertanyaan itu masih ada dalam kisaran 5 wilayah berikut ini:
  • Interest – You have taken the trouble to investigate the job.
  •  Intelligence -You really understand the requirements of the job.
  •  Confidence – You have everything it takes to do the job.
  •  Personal appeal – You are the type of person who will fit in well.
  •  Assertiveness – You ask for the job.

Yakinlah Anda Akan Diterima dan Berhasil

Mengapa komposisi orang gagal dengan orang sukses membentuk paramida? Karena sangat sedikit orang yang memiliki keyakinan yang cukup mengenai kemampuannya dalam mencapai apa yang diinginkannya.
Pernah mendengar ungkapan: “Faith can move mountains”?
Jika pernah, maka saya rasa anda juga pernah mendengar orang yang mengatakan
Halah… lebay! Mana mungkin anda bisa menggeser gunung hanya dengan mengatakan: hi gunung, bergeserlah.”
Kelompok kedua ini tidak mampu membedakan faith vs. wishful thinking. Orang-orang yang lebih banyak mengeluh ketimbang berusaha. Ya jelaslah, berharap saja memang tidak akan mengubah sesuatu. Bisa diterima bekerja di perusahaan yang anda inginkan memang tidak akan pernah terwujud hanya dengan berharap. Anda perlu memiliki tekad “aku-yakin-bisa” dahulu. Selanjutnya, tekad “aku-yakin-bisa” itu akan merangsang anda untuk mencari tahu “bagaimana-caranya-supaya-bisa”, sekaligus memberi asupan semangat yang cukup  untuk mengikuti rangsangan-rangsangan berikutnya, yang pada akhirnya akan mengarahkan anda pada keberhasilan. Yakinlah anda pasti diterima dan berhasil.

sumber : http://jurnalakuntansikeuangan.com/2012/04/tips-menghadapi-interview-kerja-untuk-posisi-akuntansi-keuangan/

Belajar Akuntansi, Keuangan dan Pajak, tak harus tegang.


Lebih penting lagi, tak harus bayar. Jika bermanfaat, dishare saja


Cara Mudah Menghitung Harga Pokok Penjualan Sekaligus Alurnya

Cara Mudah Menghitung Harga Pokok Penjualan Sekaligus Alurnya
Bagimana caranya menghitung harga pokok penjualan? Pertanyaan ini sering saya gunakan untuk test penerimaan calon pegawai di bagian accounting. Melalui tulisan ini saya ingin share cara mudah menghitung harga pokok penjualan, beserta alurnya, dengan bagan grafis sederhana (agar mudah diingat). Mungkin tidak applicable untuk segala kondisi, tetapi (mudah-mudahan) bisa menjadi awal pemahaman yang tentunya masih perlu dilengkapi dengan panduan-panduan dari buku dan literature.

Siapa Bilang Menghitung Harga Pokok Penjualan Hanya Urusan Cost Accountant?

Kembali ke pertanyaan yang sering saya ajukan dalam test penerimaan staf accounting. Jawaban mereka, bervariasi. Tentu saja ada yang benar dan ada yang salah. Tak sedikit juga jawaban yang membuat saya tersenyum kecut—prihatin persisnya.
Bagaimana tidak prihatin, suatu ketika, seorang kandidat yang melamar posisi cost accountant tidak tahu caranya menghitung harga pokok penjualan—padahal perhitungan harga pokok penjualan adalah fundamentalnya akuntansi biaya (cost accounting).
Yang lebih memperihatinkan lagi, salah seorang kandidat yang melamar posisi chief accountant dengan penuh percaya diri bertanya:
Apakah perusahaan bapak menerapkan sistim persediaan periodik?
Saya jawab, ‘Tidak. Kami menerapkan sistim perpetual
Oh. Kalau begitu tidak perlu menghitung HPP, pak. Kan sudah dijurnal saat terjadi penjualan,” dia menyampaikan pandangannya.
Betul. Dalam sistim persediaan perpetual, harga pokok penjualan diakui saat barang laku terjual. Tetapi saya tidak terlalu yakin jika dia benar-benar memahami konsep harga pokok penjualan dengan baik. Untuk itu saya meminta dia membuat satu contoh.
Misalnya, Pak. Terjadi penjualan barang persediaan maka dijurnal:
[Debit]. Piutang Dagang
[Kredit]. Penjualan
Dan;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi
Jurnalnya sudah benar. Lalu saya minta dia mengisikan angka di masing-masing jurnalnya. Dan, dia memasukan angka (saya tidak ingat persisnya), tetapi kurang-lebih sbb:
[Debit]. Piutang Dagang = Rp 20
[Kredit]. Penjualan = Rp 20
Dan;
[Debit]. Harga Pokok Penjualan = Rp 15
[Kredit]. Persediaan Barang Jadi = Rp 15
Saya bertanya lagi, “Mengapa kalau penjualannya Rp 20 trus HPP-nya jadi Rp 15? Apakah boleh jika angka 15 itu saya ganti dengan angka 5 atau 1,000,000 atau angka apa saja yang saya suka?
Melihat dia cuma diam dan nampak bingung, saya ganti pertanyaanya dengan ekspresi yang lebih tegas, “Saat anda membuat jurnal transkasi penjualan, dari mana anda tahu harga pokok penjualan sebesar angka yang anda masukan dalam jurnal?
Biasanya sudah ada di system, pak,” dia menjawab dengan jujur.
Mendapat jawaban seperti itu, lalu saya mendesak dia dengan pertanyaan, “Dan, anda PERCAYA dengan angka yang di sistem itu?
Kan sudah dihitung oleh cost accountant, pak. Bukan tanggungjawab saya.”
Dari sana saya mengambil kesimpulan bahwa kandidat tidak sungguh-sungguh memahami teknis perhitungan harga pokok penjualan. Dan dia bukan orang yang tepat untuk berada dalam team saya. Yang mungkin luput dari pertimbangannya adalah: seorang cost accountant berada di bawah tanggungjawabnya—sebagai seorang chief accountant.
Lepas dari itu semua, khususnya chief accountant, harus bisa menjamin akurasi setiap digit angka yang tersaji dalam laporan keuangan—termasuk harga pokok penjualan yang “muncul di system.” Nah, jika darimana datangnya (teknis perhitungannya) saja tidak tahu, bagaimana bisa menjamin angka yang dihasilkan sudah akurat atau belum.
Mengenai angka harga pokok penjualan satuan yang suda ada di sistem (software) akuntansi perusahaan, TIDAK muncul begitu saja, melainkan melalui perhitungan teknis—entah itu dilakukan secara manual (lalu diinput ke sistem) atau melalui proses otomatisasi dengan menggunakan variable-variable data yang dimasukan saat proses produksi berlangsung.
Pada perushaan-perusahaan yang menerapkan “standard costing, perhitungan harga pokok penjualan biasanya diotomatisasi dengan menggunakan input data yang dimasukan pada saat suatu product (barang) dirancang di bagian Research and Development. Unit cost (harga pokok satuan) suatu produk terdiri dari berbagai element cost (yang sudah distandarisasi) yang kemudian membentuk apa yang disebut dengan ‘Bill of Materials” (BOM). Bagimanapun juga, tetap melalui alur pehitungan yang menggunakan konsep dasar harga pokok penjualan.
Yang ingin saya sampaikan (melalui ilustrasi kasus di atas) adalah:
“Mampu menghitung harga pokok penjualan adalah wajib bagi seorang akuntan—terlepas apakah dia seorang cost accountant atau bukan.”
Bahkan seorang auditor—yang nota benanya lebih banyak menggeluti akuntansi keuangan (dibandingkan akuntantansi biaya/akuntansi manajemen)—pun wajib tahu. Tidak menutup kemungkinan, seorang auditor perlu menguji akurasi angka-angka yang ada di Laporan Laba Rugi yang pastinya mengandung harga pokok penjualan.
Melalui tulisan ini saya ingin share cara mudah menghitung harga pokok penjualan, sekaligus alurnya. Jika tertarik, silahkan ikuti sampai selesai.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan Sederhana

Perhitungan Harga Pokok Penjualan yang paling sederhana adalah sbb:
Saldo Awal Persediaan + Pembelian (atau penambahan persediaan) – Saldo Akhir Persediaan = Harga Pokok Penjualan
Perhitungan sederhana itu bisa diterapkan pada jenis perusahaan dagang yang jenis persediaannya hanya berupa barang jadi—yang dibeli dari pemasok. Misalnya:
Data persediaan UD. JAK (pedagang eceran beras) untuk tahun 2012 adalah sbb:
Saldo awal persediaan = Rp 5,000,000
Pembelian beras dari 1 Januari s/d 31 Desember 2012 = Rp 85,000,000
Saldo Akhir Persediaan per 31 Desember 2012 = Rp 3,000,000
Harga Pokok Penjualan 2012 = 5,000,000 + 85,000,000 – 3,000,000
Harga Pokok Penjualan 2012 = 87,000,000
Itu perhitungan harga pokok penjualan beras pada perusahan dagang beras. Perhitungan menjadi agak rumit untuk perusahan manufaktur—yang barang persediaannya dibuat sendiri (baik itu sebagian atau keseluruhan).
Bagaimana menghitung harga pokok penjualan perusahaan manufaktur?
Yuk kita pindah ke paragraph berikutnya…

Alur Perhitungan Harga Pokok Penjualan Perusahaan Manufaktur

Menghitung harga pokok penjualan untuk perusahaan manufaktur menjadi sedikit lebih rumit, jika dibandingkan dengan perusahaan dagang, karena adanya “persediaan bahan baku” (raw materials) yang diolah menjadi “persediaan barang dalam proses” (work in process—biasanya disingkat WIP), lalu barang jadi (finished goods—biasa disingkat FG).
Proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang dalam proses lalu barang jadi menimbulkan cost-cost lain, diantaranya: “biaya tenaga kerja langsung” (labor cost) dan “overhead produksi” (production overhead).
Secara garis besar alur proses produksi adalah sbb:
Bahan Baku (raw materials) dikeluarkan dari gudang ==> Bahan baku diolah menjadi barang dalam proses (work in process) ==> Barang dalam proses diolah lagi menjadi barang jadi (finished goods).
Nah, perhitungan harga pokok penjualan mengikuti alur produksi di atas. Berikut adalah bagan alur perhitungan yang saya buat sedemikian rupa sehingga menjadi lebih sederhana dan mudah dipahami:
Cara Menghitung Harga Pokok Penjualan

Penjelasan:
Dari bagan di atas jelas terlihat bahwa, alur penghitungan “Harga Pokok Penjualan” perusahaan manufaktur melalui 4 tahapan, mengikuti alur produksi, yang terdiri dari:
  • Tahap-1. Perhitungan “Bahan Baku Yang Digunakan”
  • Tahap-2. Perhitungan “Total Biaya Produksi”
  • Tahap-3. Perhitungan “Harga Pokok Produksi”
  • Tahap-4. Pergitungan “Harga Pokok Penjualan”
Berikut adalah penjelasan lebih rincinya:

Tahap-1. Perhitungan BAHAN BAKU YANG DIGUNAKAN:
Saldo Awal Persediaan Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan bahan baku” adalah total nilai persediaan bahan baku di awal periode yang dihitung (awal bulan untuk bulanan dan awal tahun untuk tahunan). Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan per jenis bahan baku bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) dan kartu stock. Cakupan “bahan baku” dalam hal ini termasuk: bahan penolong/pembantu/apapun namanya.
Pembelian Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “pembelian bahan baku” dalam hal ini adalah total pembelian bahan baku (termasuk bahan penolong) NETO selama periode yang dihitung. Misalnya: “Perhitungan HPP untuk bulan Juni 2012”, berarti total pembelian bahan baku dari 1 s/d 30 Juni 2012. Jika “Perhitungan HPP untuk Tahun 2012”, berarti total pembelian bahan baku dari 1 Januari s/d 31 Desember 2012. Bisa dilihat di buku besar persediaan. Dan “NETO” dalam hal ini artinya: sudah memperhitungkan pengurangan dan penambahan akibat adanya discount, rabat, dan retur.
Saldo Akhir Persediaan Bahan Baku – Yang dimaksud dengan “saldo akhir persediaan bahan baku” adalah total nilai persediaan bahan baku (yang tersisa) pada akhir periode yang dihitung—setelah dilakukan penghitungan fisik dan penyesuaian-penyesuaian.
Bahan Baku yang Digunakan – Yang dimaksud dengan “bahan baku yang digunakan” dalam hal ini adalah total bahan baku yang diolah (diproduksi) untuk menghasilkan produk yang diinginkan. Angka ini (Rp 67,000 dalam contoh) diperoleh dengan menggunakan formula perhitungan seperti yang terlihat pada bagan: saldo awal persediaan bahan baku + pembelian bahan baku – saldo akhir persediaan bahan.

Tahap-2. Perhitungan TOTAL BIAYA PRODUKSI
Bahan Baku yang Digunakan – Ini pindahan dari perhitungan tahap-1
Biaya Tenaga Kerja Langsung – Yang dimaksud dengan “biaya tenaga kerja langsung” adalah total upah karyawan/buruh yang pekerjaannya berimplikasi langsung terhadap volume output produk yang dihasilkan. Angkanya bisa dilihat dari daftar pembayaran gaji untuk karyawan yang masuk dalam kelompok “tenaga kerja langsung”. Yang masuk dalam kelompok tenaga kerja langsung adalah pegawai yang dibayar berdasarkan jumlah jam kerja (yang ada rate per jamnya) atau berdasarkan volume pekejaan yang diselesaikan (biasa disebut borongan). Sedangkan pegawai bagian produksi di luar kriteria itu, tidak ikut dihitung.
Overhead Produksi – Overhead ini sering menjadi sumber kebingungan dan simpang-siur. Begini saja, yang dimaksud dengan “overhead produksi” adalah segala biaya yang berhubungan dengan aktivitas produksi SELAIN bahan baku dan biaya tenaga kerja langsung (lihat bahan penjelasan mengenai bahan baku di tahap-1). Termasuk dalam kelompok ini adalah biaya yang timbul dari aktivitas packaging, pengiriman barang, biaya pemeliharaan mesin dan peralatan, biaya pemeliharaan gedung pabrik dan gudang, penyusutan mesin dan peralatan, penyusutan gedung pabrik dan gudang.
Total Biaya Produksi – Yang dimaksud dengan “total biaya produksi” dalam hal ini adalah semua biaya yang timbul akibat aktivitas produksi yang berlangsung selama periode yang dihitung—termasuk bahan baku yang digunakan (itu sebabnya mengapa “biaya bahan baku yang digunakan” dari perhitungan tahap-1 diikutsertakan) ditambah biaya tenaga kerja langsung dan overhead produksi.
Note: Sampai pada tahap ini, perhitungan telah mencerminkan segala biaya/cost yang timbul dari aktivitas produksi selama periode yang dihitung, TETAPI belum mengikutsertakan penggunaan “persediaan barang dalam proses” yang merupakan SISA (saldo akhir) periode sebelumnya. Itu sebabnya mengapa hasil perhitungan sampai pada tahap-2 ini disebut “Biaya produksi” saja—BELUM disebut Harga Pokok Produksi. Lanjut ke tahap-3…

Tahap-3. Perhitungan HARGA POKOK PRODUKSI
Total Biaya Produksi – Ini pindahan dari perhitungan tahap-2 (baca note di tahap-1)
Saldo Awal Persediaan Barang Dalam Proses – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan barang dalam proses” adalah total nilai persediaan barang dalam proses di awal periode yang dihitung. Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan rincian per item/jenis barang bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) persediaan barang dalam proses.
Saldo Akhir Persediaan Barang Dalam Proses – Yang dimaksud dengan “saldo akhir persediaan barang dalam proses” adalah total nilai persediaan barang dalam proses (yang tersisa) pada akhir periode yang dihitung—setelah dilakukan penghitungan fisik dan penyesuaian-penyesuaian yang diperlukan.
Harga Pokok Produksi – Yang dimaksud denga “harga pokok produksi” adalah segala biaya/cost yang timbul dari aktivitas produksi pada masa yang dihitung (itu sebabnya mengapa total biaya produksi dari hasil perhitungan tahap-2 diikutsertakan) ditambah dengan saldo awal persediaan barang dalam proses, lalu dikurangi saldo akhirnya.
Note: Ketiga tahap (dari tahap-1 s/d tahap-3) ini sudah mewakili semua biaya/cost yang timbul dari aktivitas suatu proses manufaktur (pabrikan). Dengan kata lain, mencerminkan semua biaya/cost yang timbul akibat proses pengolahan dari bahan baku menjadi barang yang siap untuk dijual. Kasarannya, angka ini mewakili nilai persediaan barang jadi yang berhasil dibuat selama periode yang dihitung. TETAPI belum mengikutsertakan penggunaan persediaan barang jadi SISA dari periode sebelumnya. Itu sebabnya mengapa hasil perhitungan sampai tahap-3 ini disebut “Harga Pokok Produksi” saja—BELUM disebut Harga Pokok Penjualan. (Untuk menentukan HARGA POKOK PRODUKSI SATUAN, perhitungan dibuat ditahap ini dengan cara membagi total nilai harga pokok produksi dengan jumlah output produk yang dihasilkan selama periode tersebut, dibuat per jenis/item produk.)

Tahap-4. Pergitungan HARGA POKOK PENJUALAN (HPP)
Harga Pokok Produksi – Ini pindahan dari perhitungan tahap-3 (baca note di tahap-3)
Saldo Awal Persediaan Barang Jadi – Yang dimaksud dengan “saldo awal persediaan barang jadi” adalah total nilai persediaa barang jadi di awal periode yang dihitung. Saldo awal periode yang dihitung sama dengan saldo akhir periode sebelumnya yang secara global bisa dilihat di Neraca, sedangkan rincian per jenis/item barang bisa dilihat di buku persediaan (inventory ledger) barang jadi dan kartu stock.
Barang Tersedia Untuk Dijual – Yang dimaksud dengan “barang tersedia untuk dijual” adalah total nilai persediaan barang jadi—yaitu: barang jadi yang dihasilkan selama periode yang dihitung ditambah dengan saldo awal persediaan barang jadi (alias sisa barang jadi dari periode sebelumnya)—yang tersedia atau siap untuk dijual.
Saldo Akhir Persediaan Barang Jadi – Yang dimaksud dengan “saldo akhir barang jadi” adalah nilai persediaan barang jadi (yang tersisa) di akhir periode yang dihitung—tentunya setelah melalui penghitungan fisik dan rekonsiliasi (antara fisik barang dan catatan), serta adjustments yang diperlukan telah dimasukan.
Harga Pokok Penjualan (HPP) – Inilah hasil (angka) yang diperoleh diujung alur proses—setelah melalui empat tahap penghitungan—untuk menentukan harga pokok penjualan perusahaan manufaktur.
Tentu ini bukan panduan yang komprehensif, tetapi saya berharap ini bisa menjadi panduan awal yang bisa membantu pembaca untuk memahami alur penghitungan harga pokok penjualan (HPP) dengan lebih mudah. Untuk panduan yang lebih komprehensif silahkan baca kembali buku-buku akuntansi manajemen dan akuntansi biaya.
Mr. JAK

Mr. JAK

Seorang Akuntan yang prihatin akan mahalnya biaya pendidikan dan bahan ajar, khususnya terkait dengan bidang Akuntansi, Keuangan dan pajak di Indonesia.


Related Articles

Perlakuan Akuntansi Untuk Website (ISAK 14 Terbaru)

Dewasa ini hampir setiap perusahaan memiliki website untuk berbagai alasan. Ada berbagai transaksi keuangan—terutama sekali pengeluaran-pengeluaran kas—terkait dengan kepemilikan website.

Mengambil Keputusan Strategis Dengan Pola Perilaku Biaya

Sebagai penutup seri pola perilaku biaya, JAK akan membahas tentang mengambil keputusan strategis dengan menggunakan pola perilaku biaya sebagai bahan

Perlakuan Akuntansi Dan Jurnal Pembagian Dividen

Sebelumnya, JAK  sudah dibahas mengenai tata cara pemotongan dan pelaporan pajak dividen. Di tulisan ini akan dibahas mengenai perlakuan akuntansi


Jumat, 27 Juni 2014

Monexnews - Pihak Amerika Serikat mungkin akan memperbolehkan ekspor minyak mentah sebanyak 750,000 barel per hari, berdasarkan langkah baru pemerintah menentukan kualifikasi untuk ekspor. Produsen, pihak penyulingan, dan perusahaan jalur pipa sedang mempertanyakan sebenarnya seberapa banyak pemerintah Obama melonggarkan posisi ekspor minyak mentah setelah Departemen Perdagangan pada tanggal 24 Juni mengatakan telah mengkategorikan sejumlah minyak yang diproses dengan ringan dapat diekspor. AS telah melarang sebagian besar ekspor minyak mintah selama 4 dekade.
Sekitar 750,000 barel perhari dari minyak yang diproduksi dari kilang minyak jenis shale AS adalah jenis ultra-light yang dikenal sebagai minyak hasil kondensasi, ucap Michael Wojciechowski, kepala Americas downstream research for Wood Mackenzie Ltd. Lebih dari 70% minyak hasil kondensasi di AS datang dari kilang Eagle Ford di Texas, di mana mayoritas melalui proses pembakaran gas khusus, ucap Amrita Sen, kepala ekonom minyak untuk Energy Aspects Ltd. di London.
Departemen Perdagangan telah memberikan izin agar minyak hasil kondensasi dapat di eskpor setelah melewati sejumlah proses, yang dikenal sebagai stabilisasi, karena masih dapat dianggat sebagai produk hasil penyulingan. Meski sebagian besar ekspor minyak mentah dilarang, produk hasil penyulingan dapat diekspor tanpa batasan. Stabilizer pada kilang minyak sepanjang Gulf Coast AS mungkin dapat mencapai kapasitas lebih dari 200,000 barel per hari, menurut Eric Lee, strategis komoditas untuk Citi Research.

sumber : http://www.monexnews.com/commodity/jumlah-ekspor-minyak-as-mungkin-akan-bertambah.htm

Chicago (ANTARA News) - Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange berakhir lebih tinggi pada Jumat (Sabtu pagi WIB), karena alasan teknikal.

Kontrak emas yang paling aktif untuk pengiriman Agustus, naik 3,0 dolar AS atau 0,23 persen, menjadi menetap di 1.320 dolar AS per ounce. Emas mengakhiri pekan ini dengan keuntungan sebesar 0,3 persen, dan sejauh ini meningkat selama empat minggu berturut-turut, lapor Xinhua.

Untuk sebagian besar minggu ini, emas telah mencerna keuntungan yang dibuat setelah komentar "dovish" Ketua Federal Reserve Janet Yellen pada 18 Juni.

Laporan-laporan bahwa Uni Eropa dan beberapa negara yang berbatasan dengan Rusia menandatangani perjanjian perdagangan dan politik berdampak tinggi yang mendukung emas, karena para analis pasar percaya dapat menimbulkan ketegangan-ketegangan baru dengan Rusia.

Namun demikian, kenaikan emas pada Jumat itu sedikit dibatasi oleh laporan yang menunjukkan bahwa secara keseluruhan ukuran sentimen dari University of Michigan dan Thomson Reuters naik ke angka akhir 82,5 pada Juni dari tingkat Mei 81,9, sedikit lebih baik dari ekspektasi para ekonom.

Secara teknikal, emas akan menghadapi tekanan berat antara 1.320 hingga 1.350 dolar AS, para analis pasar percaya.

Perak untuk pengiriman September turun 2,8 sen, atau 0,13 persen, menjadi ditutup pada 21,134 dolar AS per ons. Platinum untuk pengiriman Oktober naik sembilan dolar, atau 0,61 persen, menjadi berakhir pada 1.480,3 dolar AS per ounce.


Penerjemah: Apep Suhendar

Editor: B Kunto Wibisono

http://www.antaranews.com/berita/441351/harga-emas-naik-karena-alasan-teknikal

BUMN dorong penggunaan rupiah di pelabuhan

Jumat, 27 Juni 2014 21:08 WIB | 2624 Views
BUMN dorong penggunaan rupiah di pelabuhan
Ilustrasi (Ist/ferly)
Jakarta (ANTARA News) - Menteri Keuangan Chatib Basri mengatakan perusahaan BUMN bisa mendorong penggunaan rupiah untuk setiap transaksi keuangan di wilayah Indonesia, termasuk pelabuhan Tanjung Priok.

"BUMN kan dibawah pemerintah. Pemerintah, kalau menugaskan penggunaannya dalam rupiah bisa dilakukan oleh BUMN," katanya di Jakarta, Jumat.

Menkeu mengatakan penggunaan mata uang rupiah wajib dilakukan di wilayah Indonesia, karena hal tersebut sesuai penerapan UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang.

Pasal 21 Ayat (1) huruf c UU tentang Mata Uang menyebutkan bahwa uang rupiah wajib digunakan dalam transaksi keuangan yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

Menurut dia, penggunaan valas masih sering digunakan dalam transaksi keuangan di kawasan pelabuhan, karena lebih mudah dilakukan dan tidak perlu mengkhawatirkan adanya selisih kurs.

"Kalau revenuenya dalam dolar, ada sebagian utang dolar, dia tukar dalam rupiah lalu ke dolar lagi, maka ada selisih kurs. Untuk menghindari itu, (mereka berpikir) sebaiknya taruh dalam dolar saja," katanya.

Menkeu mengatakan meskipun UU telah mewajibkan penggunaan rupiah untuk seluruh transaksi keuangan di wilayah Indonesia, namun hal tersebut tidak mudah dilakukan dalam waktu dekat.

"Yang (perusahaan) swasta masih susah untuk diperintahkan walaupun itu sebetulnya amanah UU, karena monitornya susah. Kalau BUMN, tinggal dilaksanakan saja," ujarnya.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Chairul Tanjung meminta transaksi keuangan di kawasan pelabuhan Tanjung Priok menggunakan mata uang rupiah, sesuai penerapan UU Nomor 7 Tahun 2011 tentang mata uang.

"Transaksi di lingkungan RI harus menggunakan mata uang rupiah. Kami sudah meminta PT Pelindo II agar seluruh perusahaan (di pelabuhan Tanjung Priok) bisa meimplementasikan UU itu," katanya.

Chairul mengatakan selama ini masih banyak transaksi keuangan di kawasan pelabuhan seluruh Indonesia, tidak hanya Tanjung Priok, yang menggunakan mata uang dolar AS dan belum sepenuhnya memanfaatkan rupiah.

"Kami akan melakukan sosialisasi selama tiga bulan, agar penggunaan rupiah bisa dilaksanakan di pelabuhan seluruh Indonesia, dan tidak ada lagi tekanan rupiah terhadap dolar secara berlebihan," katanya.(*)
Editor: Ruslan Burhani

http://www.antaranews.com/berita/441308/bumn-dorong-penggunaan-rupiah-di-pelabuhan

Pupuk Indonesia tawarkan obligasi senilai Rp3,7 triliun

Selasa, 17 Juni 2014 17:56 WIB | 5227 Views
Pupuk Indonesia tawarkan obligasi senilai Rp3,7 triliun
Ilustrasi. Logo PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang baru diluncurkan di Plaza Pupuk Kaltim, Jakarta, Rabu (18/4). (FOTO ANTARA/Rosa Panggabean)
Jakarta (ANTARANews) - PT Pupuk Indonesia Holding Company (PIHC) yang merupakan induk BUMN pupuk menawarkan obligasi kepada publik senilai Rp3,7 triliun untuk pengembangan usaha dan menjadi produsen pupuk serta pangan yang besar di dunia.

"Kami berharap dengan dukungan bapak-ibu (calon investor), PT Pupuk Indonesia bisa masuk 10 besar perusahaan pupuk dunia," kata Direktur Keuangan PT Pupuk Indonesia Achmad Fadhiel pada penawaran obligasi perusahaan itu, di Jakarta, Selasa.

Pada penawaran perdana yang dihadiri lebih dari 200 orang itu, ia menjelaskan saat ini PIHC masuk dalam deretan ke-12 di antara 20 perusahaan pupuk terbesar di dunia, setelah CF Industries HO (11) dari Amerika Serikat dan Sinofert Holding (10) dari Tiongkok.

"Kami telah menyiapkan rencana pengembangan bisnis, tidak hanya sebagai produsen pupuk, tapi juga bisnis pendukung lainnya," kata Fadhiel.

Selain menjadi produsen pupuk dan petrokimia, serta pangan dan benih, PIHC juga memperkuat dan mengembangkan  bisnis di sektor perdagangan, kawasan industri, logistik, dan pembangkit listrik, yang selama ini menjadi pendukung bisnis utama.

Hasil obligasi tersebut, lanjut Fadhiel, sebanyak 41 persen untuk pinjaman kepada PT Pupuk Iskandar Muda (PIM) guna melunasi pinjaman bank. Kemudian, 32 persen untuk pinjaman kepada PT Pupuk Kalimantan Timur (PKT) untuk modal kerja dan pengembangan usaha. 

PIM dan PKT merupakan BUMN pupuk yang menjadi anak perusahaan PIHC.

Sisanya sebanyak delapan persen diberikan sebagai pinjaman kepada PT Pupuk Indonesia Logisitik (PILog) guna pengembangan bisnis dan niaga.

"Bisnis logistik ini untuk mendukung transportasi pupuk ke dalam negeri agar tepat waktu dan sasaran, serta pengembangan ekspor," kata Fadhiel.

Sementara sebanyak 12 persen akan dimanfaatkan PIHC untuk pinjaman entitas bisnis yang akan dibentuk dalam rangka pengembangan usaha di bidang energi, dan tujuh persen lagi untuk pengembangan di bidang properti dan kawasan industri. 

PIHC menawarkan obligasi dengan tingkat bunga 9,25 - 10 persen untuk seri A dengan tenor tiga tahun, dan 9,75 - 10,25 persen untuk seri B dengan tenor lima tahun.

Penawaran awal dilakukan mulai 16 - 24 Juni, sedangkan penawaran umum pada 2-3 Juli, setelah pernyataan efektif dari OJK pada 30 Juni 2014.

Sementara itu Komisaris PIHC Mas Achmad Daniri optimistis obligasi sebesar Rp3,7 triliun tersebut akan diserap pasar karena menjanjikan keuntungan bagi investor.

"Investor biasanya akan menanamkan uangnya pada orang/perusahaan yang bisa dipercaya, bisa mengelola perusahaan secara efisien, dan punya enterpreneurship," kata Mas Achmad Daniri yang pernah menjadi Presdir Bursa Efek Jakarta.

Ia mengatakan obligasi perdana PIHC ini merupakan terobosan untuk mendapatkan modal kerja dan pengembangan usaha, di tengah ketatnya cash flow perusahaan.

Ketatnya cash flow PIHC, salah satunya akibat pemerintah belum membayar lunas subsidi pupuk kepada PIHC sekitar Rp14 triliun. (*)

Editor: Heppy Ratna

http://www.antaranews.com/berita/439476/pupuk-indonesia-tawarkan-obligasi-senilai-rp37-triliun